Rabu, 18 Juni 2014

Tugas Kelompok

Kelompok kami membawakan dua buah lagu, yaitu  Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki dan yang kedua yaitu Yang Terbaik Bagimu dari Ada Band. Sebelumnya kelompok kami telah membawakan sebuah drama tapi berhubung kekurangan pemain maka kelompok kami mengulang tugas dengan bernyanyi.




nama-nama anggota kelompok kami :
  • Boedi Andrianto
  • Imam Rasyidi
  • Mukhlis Abdul Rozak
  • Nadhia Utami
  • Ratih Kusuma
  • Nurhadiyati
  • Ivan Aprianto
 



Indonesia Pusaka
Ciptaan : Ismail Marzuki

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :

Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi

Pesan moral dalam lagu ini adalah Indonesia adalah tanah air dari bangsa Indonesia, selalu abadi sejak dulu dan sampai kapanpun. Kita sebagai warga negara yang di lahirkan di Indonesia sepantasnya untuk memberi rasa hormat terhadap negara kita sendiri.



Yang Terbaik Bagimu

Ciptaan : Ada Band

Teringat masa kecilku
Kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff :

Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati

Pesan moral dalam lagu ini adalah kita harus menghormati dan mencintai ayah kita, beliau adalah tulang punggung keluarga dan bersusah payah kerja keras demi keluarga. Ayah tidak kalah hebat dari ibu. Kita harus bisa membalas kebaikan yang telah ayah kasih untuk kita yaitu dengan cara mematuhi perintahnya dan menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya, lalu membahagiakan ayah semampu kita bisa.

Minggu, 06 April 2014

Drama

Judul        : Salah Siapa Aku Mati
Tema        : Antara persahabatan dan dendam
Konflik      : kisah persahabatan yang putus akibat suatu fitnah dan berakhir                     dengan kematian
penokohan :
Nadhia Utami sebagai Fhy (tidak pilih-pilih namun pedendam)
Atut Sulistianingrum sebagai Dara (baik, penurut, dan mudah percaya)
Nurhadiyati sebagai Natasya (Cerewet, sinis, dan ingin menang sendiri)
Ainita Savira sebagai Vero (Tomboy, cerewet, dan merasa paling berkuasa)
Mukhlis Abdul Rozak  sebagai Bill (Bersikap dingin, dan misterius)
Imam Arrasyidi  sebagai Jerry (Penurut namun mudah terhasut)
Budi Andrianto sebagai Aldo (Jahil, dan pencari masalah)
Ratih Kusuma sebagai Nike (Baik, pintar, dan penolong)
Pemeran pembantu sebagai Polisi (tegas)

Sinopsis

Sahabat jadi benci itu adalah hal yang biasa terjadi di kalangan remaja pada umumnya. Namun apa yang terjadi jika suatu persahabatan menjadi dendam dan akhirnya saling membunuh?
Di salah satu sekolah menengah atas di kota Kendari terdapat empat orang sahabat yang memiliki sifat yang berbeda-beda. Mereka adalah Vero, Natasya, Fhy, dan Dara. Di antara mereka berempat, Vero-lah yang terlihat tomboy sementara Dara sangat feminim.
Di sisi lain, banyak yang iri dengan persahabatan mereka terutama dikalangan para cewek sekolah, dan membuat banyak laki-laki merasa ingin menghancurkan eratnya persahabatan mereka, termasuk Aldo dan Jerry. Mereka berdua dengan sengaja membuat sebuah taruhan tak masuk akal dengan maksud tertentu hingga menjadi awal dari kisah tragis yang menimpa sebagian siswa maupun siswi di SMAN 4 Kendari.
Saat-saat menegangkan dan penuh ancaman pun dimulai

Adegan 1

Siang hari sejak tadi pagi hujan tak kunjung reda. Di dalam kelas yang terdapat berbagai kursi dan meja yang tertata rapi terjadi suatu keseruan tersendiri bagi siswa-siswi XII IPA3 karena salah satu guru yang seharusnya mengajar pada jam terakhir tidak kunjung datang ke kelas mereka. Ada seorang siswi sedang menyisir rambutnya dan beberapa siswa lainnya terlihat tengah asyik berbincang dan tertawa cekikikan.

Aldo: “Kenapa ya.., persahabatan mereka kok sangat erat? Ingin rasanya melihat persahabatan mereka jadi putus, tapi bagaimana caranya?(diam sambil memikirkan sesuatu)“

Jerry: “Hoi! (menepuk pundak Aldo). Melamun sendiri, ikutan dong! emang ada apa, bro?”

Aldo: “Gila! Bikin kaget! Coba lihat mereka berempat! (menunjuk ke arah Natasya d.k.k)“

Jerry: “Kenapa? Naksir ya?”

Aldo: “Sepertinya..tapi pengen lihat mereka bubaran dulu.”

Jerry: “Kamu curi saja dompetnya Vero si galak itu, terus taruh di dalam tasnya Natasya atau Fhy, Vero pasti bakal nuduh diantara mereka berdua.”

Aldo: “Jadi, Dara mau diapain? (teriak)“

Jerry: “Psssst! (menutup mulut Aldo) Yang tadi itu bohongan, jangan dianggap serius, bodoh!”

Terlihat Vero masuk kedalam kelas dengan tawa yang terbahak-bahak.

Vero: “Ahahahaha! Nat, coba deh lihat model rambut modis-ku! (sambil memainkan rambutnya dengan jarinya) Keren kan?!”

Natasya: “Idih, apanya yang keren? Norak tau!”

Vero: “Ahahahaha! Bilang aja ngiri..(menarik rambut Natasya)“

Natasya: “Ah, ah! Iya iya, bagus ah!”

Fhy: “Eh, aku ke kantin dulu ya?! (langsung menoleh kearah Dara) Ra, temenin aku dong?”

Dara: “Wait! (menuju mejanya dan mengambil buku pelajaran) Sekalian temenin aku ke perpus balikin buku ini.”

Sementara berjalan menuju pintu kelas, tiba-tiba seorang siswi terlihat buru-buru masuk ke dalam kelas dan tanpa sengaja menabrak Dara dan juga Fhy didepannya hingga buku-buku yang dibawa Dara ikut terlempar.

Fhy: “(merintih) Aaaauch!!! Kakiku!”

Dara: “(memungut buku-bukunya) Buku-buku pinjamanku, aduh!”

Nike: “(membantu Fhy berdiri) Sorry ya Fhy, Dar. Lagi buru-buru tadi, ga sengaja kok! (memelas)Sorry ya?”

Fhy: “(memegang kakinya yang sakit) Iya, ga apa-apa.”

Dari kejauhan terlihat Vero dan Natasya beserta murid yang lain menghampiri tempat kejadian tersebut hingga membentuk suatu barisan. Tanpa sadar Nike telah mendapat tamparan bertubi dari Natasya juga Vero.

Natasya: “(menampar Nike) PLAKK! Perempuan sial! Cari gara-gara ya! (dengan nada membentak).”

Nike: “(merintih dan mencoba menahan air matanya) Apa maksud kamu, Nat?”

Natasya: “Apa maksud kamu, Nat? Apa maksud kamu, Nat? (nada mengejek)Pura-pura bodoh’ apa bodoh’ beneran sih, hah!”

Vero: “Udah, sekarang kamu pergi sana! Lain kali kalo jalan ga usah sampai buru-buru deh..”

Nike: “Tapi…. (belum sempat ia berkata, tangan kanan Vero telah menempel di pipi kirinya)“

Vero: “Banyak omong!”

Akhirnya air mata yang tertahankan sejak tadi kini tak mampu dibendung lagi 
keluar dari mata Nike. Dia mencoba mencari celah dari kesalahpahaman teman-temannya dengan berkata yang sejujurnya namun tak dapat dipercaya oleh Natasya dan Vero. Kemudian mampu diredam oleh seorang siswa baru di sekolah itu.

Nike: “(memegang pipinya sambil menangis) Aku buru-buru ke kelas itupun karena ada suatu hal yang harus aku sampaikan pada kalian, tapi aku ga bermksud untuk menabrak Dara dan Fhy.”

Natasya: “Oh, masih berani mengelak rupanya ya? (tiba-tiba dengan kasar menarik-narik tangan Nike bersama Vero)“

Vero: “Sini kamu! (dengan kuat menarik-narik tangan Nike)“

Fhy & Dara: “(mencoba melerai) Cukup! Udah dong ah!”

Dan di ujung pintu telah berdiri seseorang yang belum sempat diperkenalkan oleh Nike. Dia adalah Billy Sandora, siswa baru dari luar kota. Semua mata tertuju padanya.

Bill: “(berteriak) Lepas!”

Nike: “(berusaha melepaskan diri) Tolong, Bill!”

Vero & Natasya: “Diam!!!”

Bill: “Lepas! Lepaskan dia!”

Natasya: “(terbata) A..aa.. apa???!”

Bill: “Masih belum dengar?! Lepaskan!”

Mereka berdua pun melepaskan Nike dan menjauh dari keramaian sesaat menuju arah luar kelas. Disaat yang bersamaan bel berbunyi panjang.

Adegan 2

Keesokan harinya pada saat bel istirahat berbunyi, semua siswa maupun siswi diwajibkan mengikuti rapat konsulat di Aula sekolah. Dimana pada saat itu telah terjadi perdebatan antara Vero, Natasya, Fhy, dan Dara, yang bermula dari surat kiriman seseorang yang ada di dalam tas Fhy.

Vero: “Malas deh ikut rapat. Kantin yuk?!”

Natasya, Fhy & Dara: “Yuk!”

Merekapun beranjak pergi dari kelas.Tidak lama mereka berjalan, Vero merasa ada yang terlupa.

Vero: “Wait! Aku lupa cerminku! Ah, rambutku!”

Natasya: “Butuh sisir?”

Fhy: “Kalo cermin sih ada, ambil aja di dalam tas! (menunjuk tasnya)“

Vero: “( sambil membuka tasnya dan terlihat sedang mencari sesuatu dan wajahnya sangat gelisah ) Mana sih?! (menemukan surat) Kertas apa ini?”

Natasya: “(merampas surat yang sementara dibaca oleh Vero kemudian membacanya dengan lantang) O’.. o’.. o’..(menepuk tangan)Jadi ini yang yang dibilang sahabat?”

Fhy: “(bingung) Surat untuk siapa? Sorry, Nat. barangkali itu bukan buat aku.”

Vero: “(mendorong pundak Fhy dengan kasar) Lagak! Main belakang ya?! Tau ga, yang suka sama Jerry itu bukan cuma kamu aja! Tuh, Natasya lebih dulu dibanding kamu! (sekali lagi mendorong pundak Fhy dengan kasar)“

Dara: “(shock melihat pertengkaran diantara persahabatan mereka) Sudah! Sudaaaah! Persahabatan macam apa ini?! Lagi-lagi Jerry, masih banyak cowok lain selain dia, kenapa sih milih dia?!”

Natasya: “(membentak Dara) What!!! Si perempuan ini udah mulai berani nih, Ver. Ahahahaha!”

Dara: “(menampar Natasya hingga terjatuh) Jahat!”

Natasya: “(merintih dan memegang pipinya) Aaaaaaah!”

Vero: “(mendorong Fhy hingga terjatuh kemudian mendorong Dara hingga tersungkur) Ih, kurang ajar deh!!!”

Natasya: “(bangkit lalu menjambak rambut Dara dengan kasar memaksanya untuk berdiri) Jangan sok cantik kamu, hah!”

Dara: “(mencoba melepas tarikan Natasya namun tak bisa) Aaah! Nat, jangan! Sakit, Nat! Aah!”

Natasya: “(terus menjambak) Aku udah muak dengan gaya sok lugumu itu, aku tahu kamu suka sama Jerry dan diam-diam sering merhatiin dia, hah! Wanita jahatl!”

Dara: “(berteriak kesakitan) Nat!!!!”

Fhy: “(memukul tangan Natasya untuk menolong Dara) Kamu gak mikir ya?!! Mau bunuh dia! Lepasin!!”

Vero: “(menjambak rambut Fhy tiba-tiba hingga tersungkur kebelakang) Persahabatan ini udah hancur! Urusan kita belum selesai! Aku muak dengan sok kebaikanmu. Wanita jahat!”

Fhy: “(berusaha menjambak Vero dan mengenai pipi bagian kanan Vero hingga berdarah) Aaaah! Beraninya kau!”

Vero: “(melepas jambakannya dan merintih kesakitan memegang pipinya) Ah, darah! pipiku?!Aaah!”

Fhy: “(berlari dan mencoba memukulkan buku yang ada di meja guru ke kepala Natasya) kamu yang jahatl!”

Vero: “(berteriak) Awas, Nat!”

Natasya: “(berbalik namun buku tersebut sudah mengenai kepalanya hingga ia pingsan) Oh, kepalaku. Jahat kau, Fhy!”

Fhy: “(menolong Dara yang bibirnya telah berdarah akibat jambakan dan tamparan bertubi-tubi dari Natasya) Ra, sadar, Ra! Bangun! Ayo lari dari sini!”

Dara: “(terkejut karena melihat sosok Vero yang sedang berdiri diatas Fhy dengan memegang buku penuh amarah) Effff..effff.. fhy! Diii.. be.. belakang.. mu! (terbata)“

Fhy: “(tanpa ia sadari bahwa buku yang tebal begitu cepat melayang kearahnya dan membuat bibirnya ikut berdarah) Ugh! Ini sekolah, Ver. Hentikan! (menahan darah yang keluar dari mulutnya)“

Vero: “(menarik baju Fhy hingga berdiri tepat dihadapannya) Ahahahaha! Ini kamu, Fhy?!Ahahahaha!”

Tiba-tiba Dara bangkit dan membentangkan tangannya dihadapan Vero yang mencoba membunuh Fhy. Namun apa daya, iapun terhempas kemudian tersungkur pingsan di sudut lantai.

Dara: “(membelakangi Fhy sambil membentangkan tangannya) Jangan, Ver. Kita sahabatan, Ver. Kasihan Fhy..(lesu)“

Vero: “(menampar Dara sekuat-kuatnya hingga iapun ikut terjatuh namun Dara pingsan) Awas, bodoh!!”

Natasya: “(bangkit dan menghampiri Fhy yang masih dalam posisi berdiri membelakangi tembok kelas) Rasakan ini, wanita pembohong! (menghantamkan kepala bagian belakang Fhy ke tembok sebanyak 10 kali) Ahahahaha!”

Fhy: “Na’..na’.. natttt.. (terbujur kaku di lantai dengan pakaian yang bersimbah darah akibat hantaman)“

Vero: “(teriak) Nattttttt!”

Dara: “(menangis sambil menutup mulut karena shock) hikss..hikss.. apa yang telah kalian lakukan? Hikss..”

Natasya: “(menoleh kearah Dara) Diam kamu! Atau kamu akan aku bunuh juga, Dar!”

Vero: “U’..u’.. udah, Nat! be’.. be’.. resin.. ma’.. yatnya! (terbata)”

Tubuh Fhy yang sebelumnya ingin dibuang ke danau akhirnya dibatalkan karena ketakutan akan siswa lain yang melihat mereka sedang membawa mayat, lebih memilih menyembunyikan di dalam gudang sekolah yang terletak agak jauh dari kelas mereka. Dan tak lupa mereka membersihkan bercak darah yang ada di lantai kelas sehingga tidak menimbulkan suatu kecurigaan.Namun, sejak saat itu hubungan antara Vero, Natasya, dengan Dara kurang baik.

The End


Nilai moral yang terkandung dalam drama ini adalah ketika Billy melihat teman sedang berkelahi ia segera melerainya, Nike mau meminta maaf karena dia tidak sengaja menabrak Dara dan Fhy.

Minggu, 12 Januari 2014

Museum Bank Indonesia

Perjalanan kali ini saya akan ajak anda untuk mengenal lebih jauh salah satu museum yang berada di Jakarta yaitu Museum Bank Indonesia.





Museum ini terletak di jalan Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Kota). Awal dari gedung ini adalah sebuah rumah sakit Binnen Hospital, yang kemudian dialihfungsikan menjadi De Javasche Bank. Sejak 21 april 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan gedung ini sebagai Museum Bank Indonesia dengan tujuan untuk memberikan informasi yang bisa kita peroleh berkaitan dengan Bank Indonesia sebagai bank sentral sejak awal berdiri.Terdiri dari dua lantai.

Gedung Museum Bank Indonesia

Sebelum memasuki ruangan, kita di haruskan untuk menitipkan barang-barang bawaan terkecuali dompet, handphone, kamera. Lalu mengambil tiket sebagai tanda masuk. Tiket ini gratis tanpa di pungut biaya apapun karena museum ini di biayai oleh pemerintah Indonesia.

Ini adalah ruangan untuk mengambil tiket

Sehabis mendapat tiket lalu kita berjalan ke arah pintu masuk ruangan museum dengan pencahayaan yang lumayan gelap sehinggan bisa mendapatkan kesan jaman dahulu. Lalu kita memasuki ruang teather kecil, sayangnya film dalam teather tersebut sedang tidak diputar.

Sekarang menuju ruang pra bank Indonesia. Di ruangan ini menceritakan tentang aktivitas perdagangan selama era Eropa bergadang di Nusantara yang pada akhirnya menjadi awal perbankan di Indonesia.

Awal perbankan di Indonesia


Para penjelajah dunia yang pernah singgah di Indonesia



Di ruang pengantar sejarah ini kita bisa melihat akulturasi pendatang dengan penduduk local dengan adanya perkawinan campuran.


Perbankan pada masa Belanda





Awal kemerdekaan Indonesia yang panjang









Mulai dari pendudukan jaman Belanda, Jaman Jepang, dan akhirnya Proklamasi


Metamorfosa logo bank Indonesia


Telepon terus menerus berbunyi di bank Indonesia selama masa krisis moneter


berbelok ke kanan sedikit dapat kita temui replika ruang cadangan emas yang dibuat mirip seperti emas aslinya. Emas batangan ini dalam sejarahnya pernah berfungsi sebagai uang beredar.

Keluar dari ruangan yang penuh dengan emas ini, lalu kita menuju ruang numismatic. Kita dapat menikmati beragam koleksi uang mulai dari jaman Kerajaan Hindu-Buddha, Kerajaan Islam, uang colonial, pasca kemerdekaan, dan ada juga uang mancanegara.

Ini salah satu contohnya

Setelah selesai menjelajah pengetahuan tentang museum bank Indonesia dan sebelum mengakhiri kunjungan, kita dapat membeli berbagai souvenir khas Museum Bank Indonesia sebagai kenang-kenangan kunjungan ke museum tersebut.
Museum ini buka pada hari Selasa hingga Minggu, untuk hari Senin dan hari besar tutup. Pada hari Selasa Jumat, museum ini buka pada pukul 08.00-15.30 WIB, sedangkan pada hari Sabtu dan Minggu dari pukul 08.00-16.00 WIB dan tidak dipungut biaya seperserpun.


Kamis, 02 Januari 2014

puisi

                                                                              Jenuh


Kehidupan terus berjalan
Dan waktuku terus berlalu
Begitu cepat dan sangat cepat
Tak ada yang dapat kuubah
Kendali telah ku coba berulang kali

Mungkin memang benar hidup
Tak selamanya sesuai keinginan
Satu yang telah kusadari
Hari ini tak akan mungkin kembali
Seperti sedia kala

Adakah hari esok ?
Untukku menjalani hidup
Yang lebih baik dari hari ini

Jika masih ada hari esok untukku
Aku pun ragu
Akankah aku mampu bertahan
Dengan semua yang telah terjadi